Iklan 1

Blog pribadi Sasha

 

267 Hari Untuk Sang Buah Hati

2 komentar
Konten [Tampil]


buku 267 hari

Assalamualaikum,

One Day One Post Indonesia Content Creator sudah masuk hari ke-3 nih, alhamdulillah masih bisa kekejar dengan berjalan pelan, nggak sampek ngos-ngosan setoran menjelang jam-jam mepet deadline, hehhehee

Kali ini, tulisannya tentang review buku yang judulnya adalah 267 hari, karya mbak Nimas Achsani. Dari judulnya udah buat sahabat penasaran belum? Ini angka apa sih? Kok bisa judulnya 267hari?. Simak lengkap hanya di blog ini ya. 

Buku ini adalah "waktu" untuk saya berbicara seorang diri. Menata hati dan juga pikiran melalui rangkaian kalimat.Tak ada ingin menggurui, karena memang seluruhnya adalah murni pengalaman diri. (Nimas Achsani)

Dari sedikit kalimat pesan penulis diatas itu, yang saya fahami adalah bahwa penulis mencoba menuliskan pengalaman pribadinya dari mulai menunggu Amanah, mengandung, hingga melahirkan seorang anak yang sudah menjadi do'anya sejak lama. 

Bagaimana buku ini megajarkan tentang hal syukur dan ridho atas semua ketetapan Allah kepada kita sebagai Hamba. Mencoba tetap tenang dengan segala yang telah dihadapi penulis, termasuk ketika banyak orang-orang luar yang begitu mudahnya menghakimi perihal "Udah lama menikah, kok belum punya anak juga".

Ya, mbak nimas dengan segala omongan yang mungkin kurang mengenakkan untuknya dan suami. Tentang kapan ada tangis seorang bayi diantara mereka, sedangkan sudah beberapa cara dan ikhtiar yang mereka lakukan. Atas itu semua, beliau dan suaminya mencoba untuk selalu ikhlas juga legowo atas apa yang sudah Allah gariskan kepadanya. lebih memperbanyak syukur dan menyerahkan semuanya hanya kepada  Allah.

267 hari


"Atas izin dan pertolongan-Nya, dia terlahir dengan membawa ceritanya sendiri, sebuah genderang atas perjuangan di dunia dan akhirat. Nak, Selamat datang" (Buku 267 Hari, Halaman 73)

Tuhan, Amanah Ini Hisab Bagi Kami

Buku ini, sekali lagi sangat banyak memberikan energi positif untuk siapapun yang membacanya, memberikan semangat untuk pembaca yang mungkin saat ini sedang menanti Amanah dari-Nya, menjadi bukti bahwa memiliki anak bukanlah sebuah perlombaan yang harus segera di menangkan, dan masih banyak pesan-pesan positif lainnya tentang selalu berfikir positif terhadap takdir yang Allah berikan.

Bagi saya, buku ingin begitu sangat mengingatkan akan pentingnya rasa syukur karena Allah telah memberikan Amanah terhadap saya dan suami. Dua orang putra dan satu orang putri. Masya Allah, begitu maha baiknya Allah yang terhadap keluarga saya. Ketika diluar sana banyak sekali seseorang atau pasangan suami istri yang begitu sangat mengharapkan hadirnya seorang anak, namun Allah masih menginginkan mereka untuk selalu bersabar, seharusnya tak ada kekhawatiran bagi kami atas Amanah ini. Begitu merugi bagi kami bila tak ada keinginan untuk terus belajar, belajar apapun terlebih belajar tentang ilmu agama yang bisa kami gunakan untuk panduan mendidik anak-anak kami. Terlebih, sebagai seorang ibu, sayalah yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak.

 Kelak, apapun yang telah kami berikan terhadap anak-anak kami, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas ini. Tak akan ada seuah revisi, karenanya memberikan bekal yang terbaik adalah salah satu cara untuk menolong kami di akhirat kelak. Kaena, sungguh semuanya akan sia-sia, jika hanya dunia yang mengenal mereka.Namun, mereka tak akan mampu menyelamatkan kami kelak di akhirat.

Bukankah Uwais Al-Qarni pun tidak dikenali penduduk bumi, namun beliau justru dikenal oleh penduduk langit. dan betapa mulia posisi beliau di sisi Rabb-Nya.

Buku 267 Hari, Mengajarkan Tentang Pentingnya Sebuah Kerjasama Dengan Suami 

Masuk di lembar halaman ke 77, mbak nimas menuliskan tentang pentingnya peran suami setelah kita memiliki buah hati. Penting sekali agar sekiranya seorang suami menjadi pathner terbaik dalam membantu menjaga amanah yang sudah diberikan Allah. menjadi pathner di segala kondisi termasuk pathner untuk urusan pekerjaan istri. Meskipun setidaknya hanya membantu dengan "Menemani istri bangun" ketika si bayi meminta Asi di tengan malam. sebenarnya remeh sih, saat istri bangun untuk memberikan Asi di tengah malam, meskipun suami nggak ngapa-ngapain juga cuma bantu melek aja, itu sudah bagian dari support yang akan membahagiakan seorang istri yang baru saja memiliki anak. Pengalaman saya sendiri sih ini, rasanya akan sangat berbeda saat kita bangun NgAsi tengah malam dengan suami ikut bangun dan suami nggak ikut bangun, apalagi ikut bangun dan support buatin teh anget, kayak meleleh banget rasanya itu, hehhehehe.

Dalam bukunya, penulis menuliskan tentang pentingnya sebuah kerjasama antara istri dengan suami, termasuk kerjasama dalam urusan perdomestiian rumah tangga, beliau menuliskan ketika setelah melahirkan dan memang atas komitmennya yang mengurus anaknya hanya berdua dengan suami, peran kerjasama ini sangat penting. Ketika saat mbak Nimas memandikan bayi, suaminya ngebantuin buat membersihkan lantai, saat mbak Nimas memasak, gantian suami yang jagain bayinya, saat mbak Nimas nyuci atau yang lainnya suaminya melakukan hal yang lainnya yang itu semua bisa meringankan tugas istri selain mengurusi sang bayi. Masya Allah, saya jadi teringat juga bahwa ini adalah sebagian rezeki yang luar biasa yang udah Allah kasih untuk keluarga saya. Tak hanya berupa materi, bahwa suami yang ikut andil dalam urusan meringankan beban istrinya dirumah, suami yang memahami dan mengerti tanpa si istri memintanya mengerti, ini adalah rezeki yang sangat luar biasa yang sudah Allah beri. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang terus mengucapkan syukur atas apapun yang telah suami kita lakukan. Semoga para suami mendapatkan sebaik-baiknya balasan atas apa yang sudah diberikan untuk kita, para istri dan anak-anaknya.

Turunkan Ego Dan Rendahkan Ekspetasi

Ya, menjadi ibu rumah tangga, adalah suatu keputusan besar bagi seorang wanita. Menjadi ibu rumah tangga yang sudah pasti kegiatan sehari-harinya adalah dirumah, merawat anak-anaknya, memasak, membereskan pekerjaan rumah, merawat suami dan yang lainnya. Itulah pentingnya bagi kita para istri untuk menurunkan Ego kita, karena balasan yang akan kita dapatkan bukan hanya gaji yang menarik, namun lebih dari itu. Adalah surga, pahala dan kebaikan-kebaikan lainnya yang akan diganjarkan untuk kita para istri jika kita senantiasa ikhlas dan menjalankan semuanya hanya karena mengharap Ridho-Nya.

Menjadi ibu, harus mampu merubah prioritas dan sekali lagi menurunkan Ego kita. Lebih memprioritaskan keluarga dari pada suatu hal yang mungkin tak ada manfaatnya. Bukan lebih membatasi diri, namun lebih pandai memilah sebuah amanah, karena menjadi ibu itu fasenya adalah seumur hidup, dan pada tangan seorang ibu, masa depan gemilang anak-anak kita akan tercetak.

Pada akhirnya, menjadi Orangtua adalah sebuah takdir yang tak akan pernah terelakkan oleh siapapun, sekeras apapun kita mencoba, jika Allah belum berkehendak, maka tak akan ada apapun yang terjadi. Namun, atas amanah yang telah Allah beri, sudah sewajibnya kita sebagai orangtuanya harus mengusahakan yang terbaik untuknya. Karena Orangtua ataupun anak tak akan bisa memilih dilahirkan dari rahim yang mana atau memiliki anak yang seperti apa.   

Penutup 

"Tak akan pernah ada Orangtua yang sempurna, yang ada hanyalah Orangtua yang bahagia, Orangtua yang mau terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik, begitu pun seorang anak. Tak ada anak yang tanpa cela, yang ada hanyalah anak yang mau dan bersedia menerima apapun yang telah menjadi ikhtiar kedua orangtuanya. Hubungan antara Orangtua dan anak adalah satu dari keterikatan  yang tidak akan pernah putus sampai akhirat kelak. Maka tugas kita adalah menjalin keterikatan tersebut dengan sebaik-baik bekal mengahadapi perdamaian dihadapan Ilahi Rabbi." (Blurb Buku 267 Hari)


Akhir kata, terimakasih untuk mbak Nimas yang sudah menuliskan buku berjudul 267 Hari ini, buku ini sangat banyak memberikan energi positif dan pengaruh baik bagi siapapun yang membacanya. Untuk yang masih menunggu amanah, jangan pernah lelah untuk terus berusaha dan berdo'a hanya kepada Allah, karena hanya Allah yang tahu kapan waktu yang terbaik untuk kita menerima amanah tersebut.

Semoga ulasan ini bermanfaat ya sahabat ;) 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jurnal Bunda Imut
Hai, panggil saya sasha. Seorang pembelajar, ibu muda biasa yang suka sekali menulis, kesehariannya di sibukkan dengan Membersamai 2 putra dan 1 putrinya bermain, belajar dan bersenang-senang. Dengan pekerjaan sampingan sebagai Content writer dan Publisher, selain itu juga disambi dengan jualan online. Yuk, bersantai dan baca keseharian saya di sini. Enjoy !

Related Posts

2 komentar

  1. terharu bacanya,, semoga aku mendapatkan suami yang saling mendukung

    BalasHapus
  2. Saya termasuk salah satu yang menunggu nih, Bun. Terima kasih reviewnya menambah semangat. :)

    BalasHapus

Posting Komentar