Iklan 1

Blog pribadi Sasha

 

Terbukti, 5 Cara Ini Bisa Membangun Karakter Baik Pada Diri Anak

10 komentar
Assalamualaikum sahabat bunda imut 

Tips membangun karakter baik anak



Membahas tentang perkembangan dan pertumbuhan si kecil memang selalu menarik ya bund. Karena semua Orangtua menginginkan anak-anaknya bisa bersikap baik, tentunya hal ini sangat perlu dilatih. Salah satunya adalah tentang membangun karakter baik pada anak sejak dini. 

Beberapa orang mengatakan, pada usia dini si kecil akan masuk ke dalam masa keemasan atau lebih terkenal dengan sebutan periode golden age. Pada periode ini semua potensi anak akan berkembang lebih cepat. Karena orang tua berperan sangat penting untuk membentuk karakter baik pada anak, jadi sudah seharusnya para Orangtua untuk bisa memberikan contoh-contoh yang baik pula.

Adalah ibu, orang pertama yang akan dilihat sebagai contoh pertama untuk anak-anaknya. Ibu adalah role model yang akan banyak di tiru oleh anak. Jadi, sudah seharusnya seorang ibu bisa memberikan contoh yang baik agar diikuti dan dijadikan suatu kebiasaan yang akan dikenang dan dibawa oleh anak-anaknya hingga dewasa nanti. Misalkan kita menginginkan anak kita untuk disiplin, caranya terlebih dahulu kita harus disiplin, karena kita tidak bisa mengajarkan apa yang tidak kita lakukan terlebih dahulu. 

Berikut adalah 5 Tips yang biasa saya lakukan dirumah untuk membangun dan membentuk karakter baik pada ketiga anak saya, apa saja? 

Tips Membangun Karakter Baik Pada Diri Anak

Tips membangun karakter baik pada diri anak

  • Mengajari Anak Untuk Mencintai  
Bunda, pernah nggak ngajari anak tentang cinta? Mengajari anak untuk mencintai sekitar misalnya, mengajari untuk cinta lingkungan, mencintai keluarga dan juga mencintai teman-teman dan kerabatnya. Dalam hal ini yang biasa saya lakukan adalah dengan menanamkan rasa peduli pada diri anak saya. Dengan peduli atas kepentingan orang lain disekitarnya. Misalkan saat anak saya yang usianya 7 tahun sedang mengantre membeli minuman, dan kebetulan mendapatkan tempat duduk. 

Saat yang bersamaan, dibelakangnya ada seorang ibu lansia yang juga mengantre. Biasanya saya akan memberitahu pada anak saya untuk bisa berbesar hati memberikan tempat duduknya untuk ibu lansia tersebut. Dan cara ini, sudah membuat saya berhasil menumbuhkan rasa peduli dan mampu mencintai orang lain.
  • Mengajari Anak Tentang Perdamaian 
Dalam hal ini, saya selalu ajarkan untuk "meminta maaf" jika anak saya melakukan kesalahan. Contohnya adalah saat anak pertama saya berebut mainan dengan adiknya. Segera saya sampaikan jika suatu konflik yang tidak baik harus segera diselesaikan, biasanya saya akan obrolkan dengan anak-anak, mengajaknya diskusi dengan lebih menanamkan rasa "berbagi". 

Contoh yang biasa saya gunakan jika terjadi berebut mainan antara kakak dan adik, biasanya saya akan memberitahukan keduanya untuk bermain secara bergantian. Misalkan kakak main selama 15menit, ketika sudah 15menit kakak harus rela dan benar-benar memberikan mainannya untuk si adik. Begitupun sebaliknya. 

Atau, jika yang terjadi mainan kakaknya direbut oleh adik, dan si adik gak mau mengalah hingga timbul adegan adiknya nangis, biasanya saya akan sampaikan ke adik seperti " itu adalah mainan kakak, coba tanya sama kakak boleh nggak mainannya dipinjam sebentar? Atau tukeran mainan ya, mainan adik di pinjam kakak, punya kakak dipinjam sama adik" biasanya setelah dialog ini keduanya akan mengerti dan akan segera berdamai. 
  • Melatih Anak Untuk Sabar 
"Bersabar yuk, tarik nafaaas, hembuskan, Astaghfirullahal Adzim, elus-elus dada", ini adalah mantra saya jika anak-anak sudah mulai menunjukkan rasa tak sabar. Seperti ketika anak saya sedang menunggu giliran untuk dia bisa bergantian mainan dengan kakaknya. Saya akan beri pengertian untuk si adik harus sabar menunggu sampai waktu main kakaknya selesai. 

Sabar ini kuncinya adalah pada kita, orang tuanya atau pada ibunya. Intinya kita juga harus bisa bersabar, beri pengertian kepada anak tentang sabar yang dianjurkan oleh Al-Quran, saya seringnya menceritakan kisah-kisah para Nabi dan orang-orang Sholeh terdahulu tentang pahala dan indahnya sebuah kesabaran. Selain itu, berdoa adalah wajib hukumnya, menyampaikan kepada Allah SWT tentang keinginan kita untuk selalu bisa sabar dan mengajarkan sabar untuk anak-anak. 

Doa yang selalu saya ucapkan adalah potongan ayat dalam surat Al-Baqarah ayat 250 sebagai berikut:

   رَبَّنَآ اَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرًا وَّثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِيۡنَؕ 
 "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250). 

  • Ajari Anak Tentang Berbuat Baik 
Dimulai dengan hal yang simple, seperti yang sampai saat ini dilakukan oleh anak pertama saya, setiap kali kita keluar rumah, yang tidak pernah dilupakan adalah membawa makanan kucing yang nantinya akan dikasihkan pada kucing-kucing dijalan yang kita temui. Atau tentang hal sederhana, dengan mau berbagi mainan dengan adiknya, cara ini cukup simple tapi mampu menumbuhkan rasa empati pada diri anak-anak saya. 

  • Ajari Anak Untuk Mengontrol Diri 
Dengan ini, anak akan mampu mengontrol diri dan sadar bahwa terkadang apa yang kita inginkan dan apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan keinginan dan kehendak kita. 
  • Selalu Tepati Janji Dan Tanamkan Nilai Tanggung Jawab
Sejak melahirkan anak pertama, saya akan selalu mengajari anak saya tentang tanggung jawab sejak dini. Termasuk tanggung jawab terhadap apa yang sudah dia lakukan. Contohnya adalah saya selalu membiasakan anak untuk menyelesaikan apa yang sudah dia kerjakan. Kemudian mengajarinya pula untuk selalu menepati janji, caranya adalah dengan menjadi role model. 

Ketika saya berjanji sesuatu pada anak, sebisanya harus ditepati. Saya tidak akan membuat anak saya kecewa dan menjadi karakter yang tidak bertanggung jawab dan membuat dia akan berpikir janji bisa dengan mudah diingkari. Seperti ungkapan pepatah "Berani berbuat, harus berani pula bertanggungjawab". Meski arti dari ungkapan ini cukup mudah di fahami, namun bagi sebagian orang apalagi anak-anak terkadang rasa tanggungjawab ini perlu sekali diajarkan terlebih pada usia dini.

Bagaimana Cara Melatih Rasa Tanggung Jawab Kepada Anak? 

Roberts, Ph.D., seorang psikolog asal Boston, Amerika Serikat berpendapat anak-anak sering kali berbuat salah karena sebagian besar dari mereka belum mampu mengendalikan diri, dan cenderung tidak berpikir terlebih dahulu apa resiko yang akan terjadi sebelum ia bertindak. Namun, mereka sendiri tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. 

Jadi, wajar saja bila Anda sering melihat anak-anak yang menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan jika dirinya melakukan kesalahan. Selain tidak menyadari kesalahannya, melimpahkan kesalahan pada orang lain adalah cara polos anak-anak untuk menghindari hukuman atau konsekuensinya. 

Nah, untuk mengubah pola berfikir anak pada kasus seperti ini, Anda harus mengajarinya rasa tanggung jawab. Berikut beberapa kiat cerdas yang perlu Orangtua lakukan untuk melatih rasa tanggung jawab pada anak atas tindakannya. 

Tips membangun karakter baik pada diri anak


1. Beri Pemahaman Tentang Apa Arti Tanggungjawab 

Jika anak mulai berulah tapi bersikeras tidak mengakui kesalahan, jangan langsung dimarahi atau dibentak. Bila Anda marah, anak semakin tidak akan mau mendengarkan perkataan Anda. Mereka mungkin akan membalas perkataan Anda atau malah menangis. Tentu ini akan semakin sulit untuk dihadapi. Jadi, langkah yang sebaiknya Anda lakukan adalah hadapi anak dengan tenang. 

Jelaskan apa kesalahannya dan tanyakan padanya siapa yang harus bertanggung jawab. Penjelasan sebab-akibat ini membantu anak untuk memahami apa itu tanggung jawab. Bila anak masih belum memahami, buatlah penjelasan yang lebih sederhana. Lalu, tegaskan apa yang harus dilakukan untuk bertanggung jawab serta ingatkan anak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu, termasuk untuk tidak lagi menyalahkan orang lain. 

2. Ajari Anak Untuk Bisa Memecahkan Masalahnya 

Ketika anak mencoba melimpahkan kesalahannya pada orang lain, ajari anak untuk membedakan apa itu alasan dan penjelasan. Alasan adalah cara seseorang untuk tidak mengakui kesalahan. Ini berbeda dengan penjelasan, yang dimaksudkan untuk membantu orang lain memahami situasi yang sedang dihadapinya. 

Biasanya anak-anak mengalami kesulitan untuk membedakannya dan butuh waktu untuk memahaminya. Saat anak terus beralasan, yang harus Anda lakukan menyuruhnya untuk berhenti dan fokus kembali dengan “kesalahan”. Tanyakan kembali adakah hal yang bisa anak lakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Jika anak mengalami kesalahan, maka beri anak beberapa pilihan. Cara ini merangsang anak untuk membuat beberapa pilihan jika dihadapkan dalam sebuah masalah, memikirkan apa risiko yang akan dihadapi, dan akhirnya bisa mengambil keputusan yang paling tepat. 

3. Kenalkan Anak Dengan Berbagai Aturan 

Waktu luang antara Anda dan anak adalah kesempatan yang baik untuk memberi penjelasan mengenai berbagai peraturan. Entah itu peraturan yang ada di rumah, di sekolah, atau di tempat umum. Jika aturan tersebut itu dilanggar, maka jelaskan juga konsekuensi yang harus anak dapatkan. Dengan begitu, anak akan mengikuti aturan sebaik mungkin dan lebih berhati-hati dalam berbicara atau bertindak. 

Beritahukan Pada Anak, Bahwa Melakukan Kesalahan Itu Tidaklah Selalu Buruk Anak-anak kadang merasa takut dan cemas saat melakukan kesalahan. Mereka takut untuk dihukum atau dimarahi sehingga cenderung untuk menyalahkan orang lain. Untuk mengatasi ini, tunjukkan bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan hal ini wajar saja, asal tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama. 

Walaupun akan ada konsekuensinya, anak bisa belajar dari kesalahan ini supaya tidak mengulanginya lagi. Berikan pujian jika Anda sudah berani mengakui dan bertanggung jawab atas tindakannya. 

Dalam riwayat Muslim, disebutkan:

 قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِذَا تَـحَدَّثَ عَبْدِيْ بِأَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً ؛ فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ حَسَنَةً مَا لَـمْ يَعْمَلْ ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا ، وَإِذَا تَـحَدَّثَ بِأَنْ يَعْمَلَ سَيِّـئَةً ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَهُ مَا لَـمْ يَعْمَلْهَا ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ بِمِثْلِهَا. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَتِ الْـمَلَائِكَةُ : رَبِّ ، ذَاكَ عَبْدُكَ يُرِيْدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً  (وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ) فقَالَ : اُرْقُبُوْهُ ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ بِمِثْلِهَا ، وَإِنْ تَرَكَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ، إِنَّمَـا تَرَكَهَا مِنْ جَرَّايَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا إِلَـى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، وَكُلُّ سَيِّـئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللهَ. 

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ’Jika hamba-Ku berniat mengerjakan kebaikan, maka Aku menuliskan baginya satu kebaikan selagi ia tidak mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakannya, Aku menuliskan baginya sepuluh kali kebaikannya itu. Jika ia berniat mengerjakan kesalahan, maka Aku mengampuninya selagi ia tidak mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakan kesalahan tersebut, maka Aku menulisnya sebagai satu kesalahan yang sama.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Para malaikat berkata, ’Wahai Rabb-ku, itu hamba-Mu ingin mengerjakan kesalahan –Dia lebih tahu tentang hamba-Nya-.’ Allâh berfirman, ’Pantaulah dia. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, tulislah sebagai satu kesalahan  yang sama untuknya. Jika ia meninggalkan kesalahan tersebut, tulislah sebagai kebaikan untuknya, karena ia meninggalkan kesalahan tersebut karena takut kepada-Ku.’” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dikerjakannya ditulis dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat dan setiap kesalahan yang dikerjakannya ditulis dengan satu kesalahan  yang sama hingga ia bertemu Allâh.” 

Nah, itulah beberapa Tips yang sudah pernah saya lakukan untuk membangun karakter baik pada diri anak-anak saya, harapannya semoga anak-anak akan selalu berbuat kebaikan dan sadar akan manfaat dari kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan. 

Semoga bermanfaat ya . Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jurnal Bunda Imut
Hai, panggil saya sasha. Seorang pembelajar, ibu muda biasa yang suka sekali menulis, kesehariannya di sibukkan dengan Membersamai 2 putra dan 1 putrinya bermain, belajar dan bersenang-senang. Dengan pekerjaan sampingan sebagai Content writer dan Publisher, selain itu juga disambi dengan jualan online. Yuk, bersantai dan baca keseharian saya di sini. Enjoy !

Related Posts

10 komentar

  1. wah aku orangnya gregetan eeh, sukanya kalau lama ngerjain. aku yang nyelesaiin wkwkkw

    BalasHapus
  2. Inhale exhalr inhake exhale gitu aja terus sampe bocil tidur semua :D

    BalasHapus
  3. butuh proses panjang dan ketelatenan juga ya untuk bisa konsisten menerapkan ini semua. Bismillah berbenah dikit-dikit. terimakasih tipsnya bunda imut.

    BalasHapus
  4. Perlu kesabaran ekstra dan ilmu yang mumpuni ya bun untuk menerapkan pemahaman yang baik kepada anak, dan itu dimulai dari orang tua. Terima kasih artikelnya bun

    BalasHapus
  5. Yang terakhir di kolom yang jadi catatan nih, jangan lupa berdoa ya, karena yang bisa membolak-balikkan hati anak-anak kita hanya Allah pada akhirnya

    BalasHapus
  6. Teladan baik dari orang tua.. terimakasih sharingnya

    BalasHapus
  7. PR banget buat saya, karena emaknya nih yg masih ga sabaran.... Terima kasih banyak tips nya ya mbak....

    BalasHapus
  8. pas banget minggu lalu aku ikutan kulzoom tentang metode parenting, memang katanya semua yang kita ajari pada anak ngga selalu langsung terlihat hasilnya. bahkan bisa jadi perlu waktu 20 tahun untuk melihat perubahan sikap anak dan selama 20 tahun itu orangtua juga terus mendidik. perlu banyaaaaak stock sabar dan low expectation hehe

    BalasHapus
  9. Wah baca ini dapet bekal ilmu banyak buat kelak kalau udah berkeluarga dan punya anak hehe

    BalasHapus
  10. Karena baca ini aku jadi ingat pernah baca buku the danish way of parenting 😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email