Iklan 1

Blog pribadi Sasha

 

Cara Tepat Mengajarkan Kemenangan dan Kekalahan Kepada Anak

Posting Komentar
Konten [Tampil]
Cara tepat mengajarkan kemenangan dan kekalahan kepada anak


Assalamualaikum sahabat bunda imut ;) Akhir bulan banget nih ya... Tengah malem nyelesaikan tulisan ini, kelamaan di draft sayang kalau nggak dipublish.. eheheheh

Oiya, temen-temen juga tentu menjadi penonton yang paling bahagia ketika melihat anak Anda berlaga di suatu panggung kompetisi kan? Semangat dan optimisme sudah Anda tularkan jauh-jauh hari agar anak percaya diri untuk memenangkan lombanya kan?

Namun, Apakah sudah diajarkan atau siapkah ia untuk kalah? Anak-anak sering kali hanya mau menerima kemenangan dan menolak kekalahan. Berikutnya, pertanyaan yang sama juga untuk orang tua: siapkah Anda melihat anak kalah dan merespons kekalahannya?

Sudah sepatutnya orang tua harus mengajarkan kemenangan dan kekalahan sekaligus. Tujuannya adalah agar anak-anak tidak menjadikan kemenangan sebagai bahan menyombongkan diri dan menjadikan kekalahan sebagai pemantik kemarahan atau perasaan rendah diri. Lebih penting dari itu, kemenangan dan kekalahan harus diajarkan kepada anak dalam rangka menumbuhkan pribadi yang berjiwa sportif saat bermain atau berkompetisi.

 

Kebutuhan Anak-anak atas Kemenangan


Dr. Eileen Kennedy-Moore, Ph.D, seorang Psikolog Klinis dari New Jersey berkata bahwa anak-anak mulai memikirkan konsep kemenangan. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa anak-anak sebetulnya tidak begitu memahami pengertian menang atau kalah. Mereka hanya mengerti bahwa menang itu hebat. Itulah yang membuat mereka merasa harus selalu menang dalam segala hal.


“Anak-anak bukan ingin menang, melainkan harus menang,” ujar Kenneth Barish, Ph.D., Profesor Psikologi Klinis di Weill Medical College, Cornell University. Menurut Barish, kemenangan adalah hal yang sangat penting untuk anak-anak karena dapat membangkitkan perasaan bangga. Sebaliknya, kekalahan akan memicu perasaan gagal dan malu".

 

Anak-Anak Akan Melakukan Apa Pun Untuk Menang

Susan Harter, PhD, seorang Profesor Psikologi University of Denver mengungkapkan bahwa untuk menjadi pemenang, sering kali anak-anak berbuat curang dalam sebuah pertandingan. Mereka seolah-olah bisa membuat atau mengubah aturan sesuka hati mereka demi kemenangan.

 

Ekspresi yang Sering Muncul saat Menang atau Kalah

Barish juga mengatakan bahwa sering kali anak-anak tidak langsung puas walaupun sudah menjadi pemenang. “Mereka berikutnya juga bisa jadi terlibat dalam ekspresi kemenangan seperti membanggakan atau menyombongkan diri serta mengejek yang lain,” ujarnya.

Di pihak sebaliknya, ia menuturkan bahwa anak yang kalah sering kali merasa frustrasi, cemas, dan kecewa. “Mereka mungkin melemparkan mainan, bersikeras meminta permainan atau perlombaan diulang, atau bahkan menolak bermain,” tuturnya.

 

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua


Untuk membantu agar anak tidak terlalu menyombongkan diri saat menang dan bisa menerima kekalahan, orang tua bisa melakukan beberapa hal ini:

  • Berlatih lomba-lombaan di rumah

Orang tua bisa mencoba untuk mengajak anak berkompetisi di rumah bersama anggota keluarga yang lain. Jelaskan aturan main kepadanya. Jelaskan bahwa aturan main haruslah ditaati agar permainan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Ini akan mengontrol anak agar tidak berbuat curang.

  • Menjelaskan penyebab kemenangan dan kekalahan tanpa kambing hitam  

Anak mungkin tidak bisa menerima kekalahannya, tapi jangan pernah mengambinghitamkan sesuatu seperti mengatakan, 

“Oh, tadi sepatu yang Adik pakai saat lomba talinya lepas ya, makanya Adik jadi jatuh.”

Anak harus tahu penyebab ia kalah. Anda juga perlu memberinya pelajaran untuk berupaya lebih optimal lagi di perlombaan berikutnya. Anda bisa menjelaskan kepadanya seperti mengatakan, 

“Dia menang karena  bisa sampai lebih dulu di garis finish daripada Adik tanpa kelelahan sama sekali. Adik bisa latihan lagi biar lomba di lain waktu bisa menang, ya.”

  • Belajar dari pemenang

Jadikan permainan lomba-lombaan di rumah, seperti lomba merapikan mainan antara kakak dan adik, sebagai ajang untuk berbagi trik. Apabila Kakak menang, katakan kepada mereka,

 “Adik bisa belajar dari Kakak bagaimana caranya bisa menang. Kakak juga sebagai pemenang bisa bagi ilmu ya, pada Adik.” 

Hal ini akan bisa membuat mereka berpikir bahwa kalah atau menang adalah hal yang harus dipelajari. Ini juga mengajarkan bagi pemenang untuk tidak mudah merasa sombong dan tetap mau mengajari.

  • Tidak membiarkannya menang dengan mudah

Sering kali orang tua berpikir untuk membuat segalanya jadi mudah bagi anak saat bermain kartu, ular tangga dan permainan lain karena memiliki prinsip 

“Ah, dia, kan, anak-anak.” H

ini akan membuat orang tua melanggar peraturan seperti memberikan kartu yang bagus-bagus saja agar anak menang atau mengizinkannya melempar dadu lagi jika anak sampai di ekor ular. Hal ini tidak akan membuat mereka belajar tentang peraturan.

  • Ucapkan selamat saat anak kalah

Jika anak Anda kalah, tidak masalah untuk tetap mengucapkan selamat kepadanya, yang sebenarnya merupakan ungkapan apresiasi Anda. Ucapkan,

 “Selamat, ya, kamu sudah mengikuti lomba dengan baik dari awal hingga akhir.” 

Apresiasi ini akan membantu mengatasi rasa kecewanya.

  • Ajarkan makna kemenangan kepada Anak

Jelaskan kepada anak bahwa kemenangan bukanlah hal yang abadi. Hari ini ia bisa menang, tapi esok belum tentu. Hal ini akan meminimalisir kemungkinan ia menjadi sombong.

  • Berlomba dalam tim

Anak akan belajar bekerja sama dalam tim. Selain itu, apabila berlomba dalam tim, anak akan memiliki teman berbagi perasaan kecewa, malu, atau marah saat kalah. Selain itu, bagi tim yang menang, mereka juga akan belajar bahwa kemenangan tersebut didapat bukan semata-mata karena dirinya sendiri, melainkan karena kerja sama tim.

Gimana? Semoga artikelnya bermanfaat ya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jurnal Bunda Imut
Hai, panggil saya sasha. Seorang pembelajar, ibu muda biasa yang suka sekali menulis, kesehariannya di sibukkan dengan Membersamai 2 putra dan 1 putrinya bermain, belajar dan bersenang-senang. Dengan pekerjaan sampingan sebagai Content writer dan Publisher, selain itu juga disambi dengan jualan online. Yuk, bersantai dan baca keseharian saya di sini. Enjoy !

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar