Iklan 1

Blog pribadi Sasha

 

Tips Mendidik Anak Belajar Memaafkan

2 komentar
Assalamualaikum sahabat bunda imut ;)

tips mengajari anak memaafkan dan meminta maaf

Sebagai seorang ibu dengan beberapa anak, terlebih untuk saya yang jarak usia anak hampir berekatan, seringkali yang saya lihat adalah saat anak-anak bermain kemudian terlibat adegan berebut mainan bahkan sampai menimbulkan perkelahian, terutama untuk anak saya yang nomor dua, dengan kakaknya yang berusia 7tahun dimana mereka sudah memiliki kemauan sendiri serta sama-sama merasa ingin menang sendiri.

Terkadang, saya ingin agar mereka segera bisa berbaikan dan kembali bermain seperti semula, nyatanya untuk anak berusia dua tahun, hal ini cukup sulit meskipun si kakaknya sudah lebih dulu menyodorkan tangannya untuk meminta maaf. Namun, tetap yang terjadi adalah adiknya nggak mau memaafkan si kakak. Sampai sinilah sepertinya peran saya menjadi seorang ibu dalam mendidik anak-anak mulai teruji, hehhehehe.

Rasa marah dan kesal, bisa saja terjadi bagi siapapun. Termasuk pada anak kecil yang mungkin kita mengira anak kecil tersebut masih belum memahami. Kemarahan yang terjadi ketika dia berebutan mainan, ketika jatuh saat bermain atau karena mungkin di pukul sama kakak atau adiknya itu memanglah hal yang wajar terjadi. Lantas, yang terlitas dalam pikiran saya ketika terjadi demikian adalah apakah anak saya bisa memaafkan adik atau kakaknya tersebut? Ya meskipun saya sadari bahwa memaafkan itu adalah hal yang jauh lebih sulit daripada saat kita meminta maaf.

Anak saya yang pertama, usianya adalah 7 tahun. Meskipun dia memiliki sifat egois yang tinggi dan masih sulit mengelola emosi amarahnya. Sebenarnya yang terjadi adalah dia terlahir dengan naluri untuk bisa memberikan maaf lebih besar daripada saya, orang yang lebih dewasa darinya. Hal ini terjadi karena konflik yang dialami lebih sederhana, selain itu seorang anak juga masih bisa untuk diajak lebih memahami emosinya juga emosi orang lain, sehingga mudah baginya untuk bisa memaafkan orang lain.

Nah, yang saya lakukan pada anak-anak saya untuk menstimulasi kemampuannya memahami emosi diri sendiri juga orang lain sebisanya saya lakukan ketika mereka sejak dini. Ketika anak-anak berusia dibawah lima tahun. Tips apa saja yang biasanya saya lakukan untuk mendidik anak-anak saya agar mereka mampu memaafkan orang lain? Yuk simak selengkapnya dibawah ini 

Cara Yang Baik Untuk Mendidik Anak Agar Mudah Memaafkan Orang Lain

ajari anak untuk memaafkan


  • Memberikan Contoh Bagaimana Caranya Memaafkan
Mengajari proses memaafkan akan lebih mudah dilakukan oleh anak-anak jika mereka melihat secara langsung dari orang-orang terdekat atau orangtuanya. Meskipun terkadang saya ragu untuk melakukan, namun saya selalu membiasakan diri untuk meminta maaf terlebih dahulu jika saya melakukan kesalahan atau sesuatu hal yang membuat anak-anak tidak menyukainya atau terkadang marah-marah sama anak-anak. Cara ini bagi saya adalah cukup baik untuk mengajari mereka meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan.

Sayapun juga sering mengajarinya untuk menjawab "Ya, saya maafkan" saya selalu mengajari mereka tentang bahasa tubuh saat memberi maaf, yaitu berjabat tangan, atau jika perlu, memeluk mereka juga termasuk cara saya mengungkapkan rasa memaafkan atas kesalahannya. Dengan benar-benar memastikan bahwa permintaan maaf juga disertai dengan rasa menyesal, jangan sampai permintaan maaf bisa digunakan untuk mereka bisa mengulangi kembali kesalahannya, dalam hal ini biasanya saya akan menekankan dengan ucapan "Bunda maafkan, tapi janji ya? jangan diulangi lagi!".
  • Mengajarinya Untuk Bisa Menyalurkan Kemarahannya
Ada beberapa anak yang cenderung memilih tertutup dan menolak untuk menyalurkan kemarahannya, sehingga susah untuk mereka bisa memaafkan. Jika yang sahabat bunda imut alami adalah anak dengan tipe ini, silahkan mencoba mengajarinya untuk bisa menyalurkan amarahnya. Menyalurkan amarah bisa dilakukan dengan menggambar misalnya, atau menulis, membaca, bisa juga mengajaknya untuk berbicara langsug pada seseorang yang telah membuatnya menjadi kesal atau marah. Biasanya, ketika perasaan mereka menjadi plong, mereka akan cenderung lebih mudah untuk bisa memaafkan.

Berbeda dengan anak saya yang pertama, dia cenderung memiliki rasa memaafkan yang tinggi. Sehingga jika ada kesalahan atau hal yang membuatnya tak nyaman hingga membuatnya marah, biasanya dia akan mengungkapkan rasa yang tak nyaman itu secara langsung kepada saya. Dia akan sampaikan bahwa apa yang telah saya atau adiknya lakukan itu membuatnya sakit hati dan marah. Sehingga ketika dia sudah menyampaikan semuanya, kemudian saya atau adiknya yang melakukan hal yang membuatnya tak nyaman lantas cepat-cepat untuk meminta maaf, dan dengan cepat diapun akan memaklumi dan memaafkan kami.

Kenyataannya, yang terjadi adalah benar bahwa memaafkan lebih sulit daripada meminta maaf. Ada beberapa manusia bahkan mereka tak tahu bagaimana caranya untuk mulai memaafkan. Itulah mengapa banyak sekali terjadi, ketika mereka dewasa mereka akan lebih memilih untuk melupakan daripada untuk memaafkan.

Akibatnya adalah rasa marah akibat perlakuan yang diterimanya masih membekas dan suatu saat mungkin akan bisa meledak kapan saja. Dengan saya mengajarkan rasa memaafkan kepada anak-anak saya, setidaknya saya telah menanamkan bibit-bibit kebaikan di dalam hatinya. Dan sayapun bisa sama-sama belajar dengan mereka untuk lebih dapat memahami arti dari memaafkan.

Demikianlah sedikit tips parenting sederhana yang biasa saya lakukan dirumah, sebagai tulisan untuk melengkapi tema parenting di hari ke lima One day one post indonesia content creator. Semoga tips sederhana tentang mendidik anak belajar memaafkan bisa bermanfaat ya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 



Jurnal Bunda Imut
Hai, panggil saya sasha. Seorang pembelajar, ibu muda biasa yang suka sekali menulis, kesehariannya di sibukkan dengan Membersamai 2 putra dan 1 putrinya bermain, belajar dan bersenang-senang. Dengan pekerjaan sampingan sebagai Content writer dan Publisher, selain itu juga disambi dengan jualan online. Yuk, bersantai dan baca keseharian saya di sini. Enjoy !

Related Posts

2 komentar

  1. Halo mbak Sasha yang baik, terima kasih sudah berbagi tips yang sangat bermanfaat ini.

    Hmm..input aja, mungkin ada baiknya sebelum publish tulisan, diperiksa dulu. Karena saya menemukan typo yang lumayan.

    Selain itu, ada beberapa kalimat yang tampaknya bisa diedit supaya lebih ringkas dan efektif.

    Misalnya,
    "Rasa marah dan kesal, bisa saja terjadi bagi siapapun. Termasuk pada anak kecil yang mungkin kita mengira anak kecil tersebut masih belum memahami. "

    Menurut saya bisa diringkas menjadi:
    Rasa marah dan kesal, bisa saja terjadi bagi siapapun, termasuk pada anak kecil.

    Mohon maaf sebelumnya kalau menyinggung, ini opini saja. Boleh di-delete jika dirasa kurang berkenan ✌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak prima, terimakasih sekali sudah berkenan membaca tulisan saya, dan Terimakasih juga atas perbaikannya ya. ..Terimakasih sudah mengingatkan kekurang telitian saya dalam hal typo ;) bermanfaat sekali untuk saya memperbaikinya. ;)

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email